Posted by: izoruhai on: June 17, 2009
Ajang pencarian bakat yang dikemas dalam program reality show terus menghiasi layar kaca. Acara yang makin diminati ini, menjadi pesaing tayangan-tayangan sinetron. Dan, mulai Juni nanti, sebuah reality show bertajuk Top Stylist bakal hadir menyapa pemirsa, terutama para penganut tren rambut masa kini.
Reality show Top Stylist –yang merupakan ajang pencarian bakat di bidang penataan rambut— terbilang baru ini, mengadopsi tayangan berformat sejenis yang tayang di Amerika Serikat, Project Runway. Sebanyak 12 finalis akan berkompetisi sebagai stylist dengan tantangan yang berbeda dalam setiap episodenya.
Dalam Top Stylist dengan jargon Cut or to be cut ini, akan menghadirkan Gunawan Hadisuwarno sebagai mentor bagi finalis yang akan membantu sekaligus memberikan masukan bagi para finalis. Sementara tim juri, dikomandoi pakar rambut nasional, Rudi Hadisuwarno, pakar penata rambut, pemerhati kecantikan dan gaya hidup.
“Yang kami cari, adalah seorang penata rambut yang mampu menghadapi tantangan serta menghadirkan ide-ide cerdas dan kreatif untuk sebuah penataan rambut yang total look, siap pakai dan tentu saja mengikuti tren,” ujar Rudi Hadisuwarno pemilik jaringan salon Rudy Hadisuwarno, juri yang akan bertugas memberikan penilaian pada guntingan dan kreasi rambut.
Menurut penyelenggaranya, acara akan ditayangkan di stasiun televisi ANTV berdurasi satu jam setiap episodenya. Top Stylist yang akan menampilkan duabelas finalis hasil audisi dari sejumlah kota seperti Jakarta, Bandung, Yogyakarta dan Surabaya ini direncanakan tampil sebanyak delapan episode, ditambah satu grand final yang tayang live. Audisinya, yang menguji kemampuan menggunting rambut di atas manekin, telah berlangsung sejak Februari lalu dan diikuti sekitar 375 orang.
Acara yang disponsori pabrikan kosmetik asal Amerika Serikat, Matrix, tak ubahnya dengan reality show lainnya. Keduabelas finalis akan menjalani karantina di fX Style Residence, selama proses produksi berlangsung. Seperti reality show lainnya, pemirsa televisi bisa berpartisipasi lewat pesan pendek telepon genggam (SMS), meskipun penilaian juri lebih berpengaruh dibanding perolehan SMS.
Tak tanggung-tanggung, hadiah yang bakal diperebutkan adalah satu unit usaha salon lengkap dan jalan-jalan mengunjungi Matrix Global Academy di Fifth Avenue, New York, Amerika Serikat. Selama sepekan di akademi profesional rambut berskala internasional itu, sang jawara Top Stylist akan belajar dengan pakar penataan rambut internasional. Tak hanya itu, gelaran peragaan koleksi musim panas 2010 yang digelar di New York, juga akan menjadi agenda kunjungan bagi sang pemenang Top Stylist 2009. [VIEW]
Tulisan ini ditulis dan dimuat untuk VIEW edisi Mei 2009
Posted by: izoruhai on: June 17, 2009
Dalam salah satu episodenya, Oprah Show pernah menayangkan sepasang manula merasa sangat tersiksa karena kecanduan belanja. Pasangan ini merasa, kehidupan mereka dirampas oleh tumpukan ‘barang belanjaan’ yang mereka beli. Nyaris tak ada sejengkal pun dari ruangan di rumah mereka yang kosong. Sampai di lorong-lorong rumah penuh dengan barang-barang, yang juga tak mereka ketahui fungsinya. Rumah mereka berubah menjadi gudang tumpukan sampah seberat sepuluh ton. Dan tanpa mereka sadari, hal ini berlangsung selama puluhan tahun.
Seorang desainer interior yang diutus Oprah, melibatkan 100 orang tenaga kebersihan untuk membersihkan rumah pasangan ini. Butuh waktu, selama waktu selama dua pekan, dan tujuh pekan agar sang desainer bisa mengubah rumah yang mereka dambakan menjadi bersih. Lantas, usai direnovasi, apakah gaya hidup pasangan itu akan berubah atau tetap dengan pola hidup lamanya?
Singkat cerita, setelah setahun berlalu, sang desainer interior kembali ke rumah kliennya, untuk melongok kondisi rumah. Rupanya pasangan ini telah berubah karena gaya hidupnya, tidak seperti dulu lagi. Tak lagi nyandu belanja, menyimpan ‘sampah’. Ya, kondisi rumah itu 95 persen masih sama keadaanya dengan setahun silam.
Kisah menarik soal kebiasaan belanja dituturkan Shopie Kinsella dalam novelnya berjudul Confessions of a Shopaholic. Cerita yang kemudian diangkat ke layar lebar, Maret lalu, dengan judul yang sama. Diperankan Isla Fisher sebagai Rebecca Bloomwood, seorang jurnalis yang digambarkan sebagai penggila belanja. Ia selalu tergoda untuk membelanjakan uangnya untuk barang-barang bermerek. Profesinya sebagai jurnalis, tak menolong gaya hidupnya Rebecca. Kemelut pun terjadi, meski ia telah berhemat. Kartu kreditnya diblokir dan ia mulai dikejar-kejar hutang. Ia pun akhirnya menyerah dan pulang ke rumah orangtuanya untuk menenangkan diri.
Di penghujung cerita, Rebecca yang tertarik menuliskan kemalangan tetangga yang ditipu perusahaan asuransi. Tak dinyana, artikelnya mengguncang dunia. Tawaran tampil di salah satu stasiun teve pun berdatangan. Dengan penampilan alakadarnya, Rebecca akhirnya tampil sebagai sosok baru yang terbebas dari jeratan hutang bank. Tak hanya itu, sejak saat itu pula, ‘gadis bersyal hijau’ bertemu pujaan hatinya Luke Brandon (Hugh Dancy).
Kisah di atas merupakan gambaran seseorang konsumen yang merasa terkekang akibat ‘latah’ untuk selalu belanja, tanpa berpikir panjang. Dan dari cerita ini, terungkap sekelumit peran ‘desainer’ –yang tak lain adalah kita selaku konsumen— sebagai perubah alias pencipta perilaku dalam menjalani hidup.
Diakui atau tidak, krisis ekonomi global ternyata mampu mengubah perilaku sebagian besar konsumen, termasuk Indonesia. Kini, konsumen lebih memilih berbelanja di toko dan pasar-pasar tradisional. Dari data studi ShopperTrends 2009 oleh The Nielsen, tercatat took-toko tradisional dipilih untuk membeli makanan, meningkat menjadi 13 hingga 25 persen dari total konsumen. Sementara pasar-pasar tradisional dipilih sebagai tempat untuk membeli daging dan ikan segar, naik menjadi 60 persen. Padahal pusat perbelanjaan modern tumbuh subur, mulai dari kelas menengah hingga kelas premium. Bahkan kini, Indonesia telah memiliki Harvey Nichols, peritel premium. Hadir pula Grand Indonesia, sebuah mega mal terbesar yang menjadi landmark Indonesia. Juga Plaza Indonesia, Plaza Senayan dan Senayan City, yang mengklaim sebagai mal kelas dunia.
“Dari segi produk, di kalangan menengah ke atas tidak ada perubahan. Namun, di kelas menengah ke bawah, terjadi peralihan ke merek-merek dan produk yang lebih murah,” jelas Yongky Surya Susilo, Director Retailer Service PT AC Nielsen Indonesia.
Dan memang, keberadaan pasar modern akan tetap tumbuh sesuai dengan kebutuhan konsumen modern, baik di kota besar maupun kota kecil. Tak cukup disitu, konsepnya pun diubah guna mendongkrak image, pelayanan, sekaligus solusi hiburan bagi konsumen. “Saat ini, komposisi perbandingan persentase antar pasar tradisional dengan modern adalah 64:36. Secara total kategori kebutuhan konsumen, termasuk komoditas, estimasi pasar modern hanya memberikan kontribusi 10 persen,” kata Yongky.
Paling tidak, gambaran perilaku belanja serta kecendrungan belanja yang mulai bergeser bukan berarti akan mematikan aktivitas para penggila belanja. Karena sejatinya, keberadaan kaum shopaholic tak terlepas dari adanya upaya kapitalisasi industri yang terus menghadirkan ‘surga belanja’. Setuju atau tidak, kondisi ini pula yang pada akhirnya menggiring para konsumen untuk kembali menelaah diri sendiri agar berlaku bijak dalam berbelanja. [view]
artikel ini ditulis dan dimuat untuk VIEW edisi Mei 2009
Posted by: izoruhai on: June 17, 2009
Siapa tak kenal bintang film tenama Nicholas Saputra. Sosok ganteng bermata tajam ini, begitu digemari banyak wanita muda karena aktingnya yang memukai di film Ada Apa Dengan Cinta. Tak heran, jika aktor muda ini, didapuk sebagai ikon sebuah pusat perbelanjaan Senayan City di Jakarta. Lagi-lagi wajah gantengnya baka terpampang selama setahun di mal mewah ini.
Nico mengawali karirnya sebagai model ini. Tapi, perannya sebagai Rangga di film Ada Apa Dengan Cinta (2002), yang membuatnya terkenal. Beberapa film layar lebar pun ia bintangi, seperti Biola Tak Berdawai (2003), Janji Joni dan Gie. Di tiga film ini, kepiawaiannya berakting memang patut diacungi jempol. Tak hanya itu, Nico lagi-lagi berakting total dalam film 3 Hari Untuk Selamanya (2007), 3 Cinta 3 Doa dan film kolosal Drupadi (2008).
Setiap kali bermain film, pria kelahiran Jakarta, 24 Februari 1984 ini selalu mendapat pujian penonton. Penikmat film pun selalu menunggu aktingnya. Tak heran, jika namanya acapkali menjadi perbincangan para sineas film, termasuk para produser sinetron. Namun, tak mudah merayu Nico dengan tawaran honor tinggi. Maklum, pria muda ini, sangat profesionalisme dalam meniti karirnya.
Berikut petikan wawancara View dengan aktor yang sejak awal April lalu menjadi presenter The Ticket di Channel [V] ini :
VIEW: Anda dipilih menjadi ikon Senayan City, komentarnya?
NICHOLAS: Yang jelas, saya benar-benar berterima kasih pada Senayan City yang merelakan dinding-dindingnya dipenuhi dengan foto-foto saya. Dan pastinya saya akan makin sering datang ke sini.
VIEW: Bagaimana perasaan Anda?
NICHOLAS: Saya bangga bisa jadi bagian dari keluarga besar Senayan City. Sebagai mal besar di Jakarta, Senayan City merupakan tempat yang nyaman dan sangat berkualitas.
VIEW: Apa yang Anda sukai jika berkunjung ke mal?
NICHOLAS: Bagi saya, mal tak sekadar tempat jalan-jalan, tapi jadi salah satu tempat untuk bersosialisasi dengan banyak orang. Saya juga suka cari makan di restoran atau mencari kebutuhan untuk penampilan, seperti baju dan sepatu.
VIEW: Kabarnya, Anda kurang suka memperhatikan fashion, komentar Anda?
NICHOLAS: Saya memang tidak terlalu paham dengan fashion. Tapi biasanya saya memakai baju tergantung lokasi yang saya datangi. Kadang saya cuma pakai kaos, celana pendek dan sandal. Dan yang jelas saya akan menghormati orang yang mengundang. Jika harus berpenampilan rapih, ya nggak masalah.
VIEW: Lantas pakaian apa yang menjadi ciri khas Anda?
NICHOLAS: Saya lebih memilih gaya street style yang santai. Saya paling suka t-shirt, celana pendek atau sandal jepit.
VIEW: Apakah Anda pernah mengalami salah kostum ketika menghadirisuatu acara?
NICHOLAS: Hehehehe… nggak dong. Mudah-mudahan nggak akan terjadilah. Sebisa mungkin saya berusaha menghindari hal itu. [view]
Artikel ini ditulis dan dimuat untuk VIEW edisi Mei 2009
Posted by: izoruhai on: May 4, 2009
Gaun, tak hanya terbuat dari beragam keindahan jenis kain dan kristal semata, melainkan suatu bentuk pengabdian bagi kebahagiaan seseorang. Itu sebabnya setiap gaun diwujudkan tak hanya lewat keahlian semata, melainkan dari lubuk hati sanubari. Terlebih gaun pengantin, sebuah busana yang selalu akan dikenang seumur hidup oleh penggunanya. Membuat gaun pengantin dengan detil-detil yang menawan, menjadi prioritas utama para desainer. Salah satunya Chenny Han yang mengaplikasikan lewat teknik laser cutting.
Tak sekadar indah, cantik dan anggun. Tapi hasil akhirnya pun begitu rapi, presisi dan tak terbatas. Itulah gambaran gaun pengantin bergaya unfinished yang memakai teknologi laser-cutting. Dengan teknik ini, Chenny Han, mampu menghasilkan berbagai ornamen dari kain yang dipotong secara sangat rapi sehingga tidak ada lagi bulu-bulu halus di sekeliling ujung kain.
Sebanyak duabelas gaun putih cantik, anggun dan eksklusif dengan teknik inovatif itu dihadirkan Chenny Han dalam peragaan busana bertajuk Laser Me Beautiful, di Jakarta beberapa waktu lalu. Pembuatan detil hiasan yang rumit, namun indah itu sebelumnya pernah dilakukan Chenny dengan bantuan kristal-kristal mahal dari Eropa, benang emas maupun media selain kain. Sebut saja koleksi gaun pengantin berlampu, gaun pengantin dari kertas, gaun pengantin batik white on white hingga gaun pengantin tiga dimensi.
Pada koleksi terbarunya ini, Chenny Han menampilkan beberapa ornamen penghias yang eksklusif sebagai pencipta keindahan busana. Diantaranya adalah ratusan bunga sutera, surai-surai yang rapi, seperti barisan mie raksasa, kotak-kotak kecil seolah kain berjendela hingga barisan komet berekor ukuran mini yang begitu artistik. “Teknik potong laser menghasilkan ornamen-ornamen yang jauh lebih rapih, mengurangi pemborosan kain serta memiliki akurasi ukuran yang sangat presisi dan konsisten. Dimana, hal ini sangat mustahil dilakukan bila menggunakan cara manual,” ujar pemilik rumah mode Chenny Han fashion and Bridal. [view]
tulisan ini ditulis dan dimuat untuk majalah VIEW edisi April 2009
Posted by: izoruhai on: May 4, 2009
Siapa yang tak kenal Wanda Hamidah. Wajahnya kerap hadir di layar kaca, ketika masih berprofesi sebagai presenter berita pada salah satu stasiun televisi nasional. Jauh sebelum itu pun, paras cantiknya selalu menghiasai halaman majalah remaja dan wanita, ketika masih berkecimpung di dunia modeling –yang digelutinya sejak usia remaja. Kini, perempuan yang berprofesi sebagai notaris itu menjajal kemampuannya di panggung politik. Lewat Partai Amanat Nasional (PAN), Wanda maju sebagai calon anggota lesgislatif (caleg) untuk provinsi DKI Jakarta pada Pemilu 2009 yang digelar 9 April 2009.
Memang, banyak kalangan menilai, tampilnya perempuan kelahiran Jakarta, 21 September 1977 di panggung politik ini bukan sekadar latah atau ‘ujug-ujug’ seperti kalangan selebriti lainnya. Aktivitas politiknya dibangun sejak menjadi mahasiswa. Tak itu saja, Wanda pun mengakui, menjadi saksi tewasnya empat rekan mahasiswa Trisakti dalam peristiwa Reformasi 1998. Usai menyelesaikan studinya di Fakultas Hukum Universitas Trisakti, Wanda bergabung dengan PAN.
Meski pada awalnya ia hanya menjadi simpatisan dan juru kampanye saja, tapi pada akhirnya ia pun membulatkan tekad, terjun di dunia politik praktis secara all out. Tak sekadar menjadi petinggi partai, perempuan yang menjabat sebagai Wakil Sekretaris Jenderal Komisi Nasional Perlindungan Anak ini, menjadi caleg DPRD DKI Jakarta ‘nomor urut satu’ untuk daerah pemilihan Jakarta Selatan.
Lantas, seberapa jauh kepiawaian ibu dari tiga anak ini untuk bisa melenggang ke gedung dewan nanti. Pun program yang bakal digelontorkan bila dirinya terpilih menjadi anggota dewan kelak. Berikut, perbincangan VIEW dengan penerima penghargaan Artis Peduli Hukum dan HAM dari Menteri Hukum dan HAM, April 2008 silam disela-sela peluncuran buku Pidato-Pidato yang Mengubah Dunia di Jakarta beberapa waktu lalu.
VIEW: Kenapa Anda tertarik dengan dunia politik?
WANDA: Karena dari dunia politik inilah, segala aspirasi rakyat bisa disampaikan. Dan dunia politik juga menjadi alat untuk menyelamatkan Indonesia.
VIEW: Sejak kapan ketertarikan Anda pada politik?
WANDA: Ketertarikan saya untuk terjun ke politik praktis diawali sejak menjadi aktivis mahasiswa. Sementara pilihan terhadap parpol yang kini saya geluti karena dilandasi pada platformnya, diantaranya penghargaan pada pluralisme. Jauh sebelum itu, saya sudah terbiasa melahap buku karya tokoh politik dunia sejak di bangku SMP. Bahkan ketika mahasiswa saya punya mimpi bahwa Indonesia memiliki parpol selain yang tiga dulu itu (PPP, Golkar dan PDI).
VIEW: Sebagai aktivis politik, dari sekian banyak tokoh politik, siapa saja yang Anda kagumi?
WANDA: Jujur, saya mengagumi tokoh politik seperti Martin Luther King, Imam Khomeini, Mahatir Muhammad, hingga Soekarno. Termasuk sosok Ali Sadikin pun saya kagumi.
VIEW: Anda pun kini mencalonkan diri sebagai calon anggota dewan terhormat di DPR/MPR, apakah ini aji mumpung?
WANDA: Bukan. Karena harus dicatat, saya terjun di dunia politik praktis sudah lama, sejak saya lulus kuliah tahun 2000 silam. Jadi ini, jelas-jelas bukan aji mumpung.
VIEW: Sebagai selebriti, banyak kalangan menilai modal Anda hanyalah popularitas, komentar Anda?
WANDA: Sah-sah saja orang berpendapat seperti itu. Dan saya akui, popularitas juga bagian dari modal saya, selain kemampuan yang saya miliki.
VIEW: Dan kenapa sepopuler Anda, hanya maju ke tingkat provinsi?
WANDA: Karena saya tidak mau sesuatu yang instan, saya ingin berkarir di politik itu bukan karena aji mumpung saya sebagai public figure. Memang, tak dipungkiri banyak orang yang mengenal saya sebagai seorang artis, tapi bukan berarti tak banyak orang mengenal saya di panggung politik.
VIEW: Lalu apa yang sudah Anda lakukan?
WANDA: Selain terus belajar seputar seluk beluk dunia politik praktis, sebagai politisi tentunya saya harus mendekati dan mendengar suara konstituennya. Dan yang saya lakukan sekarang ini adalah menghadiri pertemuan-pertemuan kaum ibu-ibu atau door to door, karena memang saya ingin memperjuangkan mereka.
VIEW: Kenapa Anda menerapkan sistem door to door?
WANDA: Ya, supaya masyarakat lebih kenal siapa calon yang akan mewakili mereka, sehingga mereka juga bisa bertanya langsung pada saya. Saya sangat sedih melihat kenyataan dalam masyarakat banyak, yang enggak tahu siapa calegnya.
VIEW: Anggapan bahwa pentas selebriti di panggung politik hanya sebagai pemanis, komentar Anda?
WANDA: Bisa jadi begitu. Memang banyak artis kan manis-manis… hehehe… Tapi janganlah meremehkan kemampuan artis. Meski saya sendiri tidak mengaku sebagai artis, kan banyak masyarakat yang menganggap saya sebagai artis. Jadi lihat saja nanti, bahwa artis pun bukan sekadar pemanis. [view]
Tulisan ini ditulis dan dimuat untuk majalah VIEW edisi April 2009
Komentar