Posted by: izoruhai on: January 14, 2010
Bagi sebagian kalangan, terlebih kaum hawa, mata merupakan bagian tubuh yang mewakili kecantikan secara keseluruhan. Ya, mata dinilai mewakili personality dari seseorang ketika pertama kali bertemu. Tak heran, jika aktris cantik Luna Maya atau Sandra Dewi, sangat peduli dengan keindahan matanya. Dua wanita cantik ini, memang banyak dipuji orang karena memiliki mata yang indah.
Lantas, seperti apa bentuk mata yang indah itu? Menurut para pakar kecantikan, mata indah sejatinya memang terlihat indah, dimana daerah sekeliling bola matanya terlihat putih, bersih, dan sehat. Selain itu, memiliki kelopak mata besar, lingkar bola mata (iris) mata besar sesuai dengan bentuk mata masing-masing, bulu mata tebal dan lentik. Karena itu, seseorang yang tak berwajah cantik, tapi jika memiliki mata yang indah, besar, berbinar, pasti akan menjadi penilaian tersendiri.
Tentu banyak cara untuk membuat wajah menjadi lebih menarik, dengan memperindah organ tubuh yang disebut sebagai jendela hati ini. Diantaranya dengan menggunakan contact lens (lensa kontak), yang kini digandrungi kaum wanita dari usia remaja hingga dewasa. Di pasaran, banyak pilihan warna yang ditawarkan produsen lensa kontak. Namun, warna cokelat dianggap sebagai lensa kontak yang fashionable.
Riset AC Nielsen bertajuk Usage and Attitude toward contact lens pada 2008, di lima kota besar (Jabodetabek, Bandung, Surabaya, Medan dan Semarang), 55 persen menggunakan lensa kontak warna cokelat. Dan hanya sekitar 34 persen dari pengguna lensa kontak saat ini, menggunakan lensa kontak warna cokelat sebagai pilihan favoritnya. Saking pede-nya, dengan bentuk mata yang indah setelah menggunakan lensa kontak warna, sebanyak 72 persen responden mengaku merasa sangat narsis (bangga dengan dirinya) serta 85,9 persen, senang berkumpul bersama teman-teman.
Salah satu lensa kontak yang digemari adalah lensa kontak Acuvue 2 Define buatan Johnson & Johnson Vision Care. Lensa ini dirancang khusus untuk mata orang Asia, bahkan membesarkan diameter iris untuk Chinesse Eye dari 11.2 sampai 12.8 mm. Dengan desain lingkar limbal berwana cokelat gelap mempertegas warna iris mata secara alami, membuatnya terlihat lebih besar, lebih berbinar, lebih hidup, natural dan indah. Lensa kontak Acuvue 2 Define menggunakan teknologi Beauty-Wrapped-In-Comfort, dimana lingkaran berwarna cokelat gelap diantara dua lapisan bening melindungi mata dari kontak langsung pigmen warna, sehingga meminimalisasi terjadinya iritasi.
“Lensa kontak Acuvue 2 Define diciptakan dengan lingkaran garis halus berwarna coklat alami sesuai dengan warna asli mata kebanyakan orang Asia. Lensa ini menambah pola iris mata menjadikan mata lebih berbinar, lebih hidup dan lebih ekspresif, namun tetap terkesan alami,” papar Country Business Manager Johnson & Johnson Vision Care Indonesia, Donny F Saerang. [view]
Artikel ini ditulis dan dimuat untuk VIEW Edisi Desember 2009
Posted by: izoruhai on: January 14, 2010
Sejak terbentuk 2001 lalu, Hijau Daun memposisikan diri sebagai band indie. Band yang berani melawan arus, dengan membawakan lagu-lagu sendiri di setiap kesempatan manggung. Baru dua tahun kemudian, Hijau Daun mulai dikenal luas setelah dua single-nya masuk dalam dua album kompilasi, hit di kampung halamannya, Lampung. Sejak itu, grup band ini kerap sepanggung dengan band-band ibukota yang manggung di sana.
Meski baru menelurkan album pertama bertajuk Ikuti Cahaya (2008) sejak hijrah ke Jakarta, namun prestasinya begitu cemerlang. Band dibawah naungan Sony Music ini, berhasil membukukan angka sembilan juta aktivasi Ring Back Tone (RBT) dari single pertamanya Suara (Ku Berharap). Tak hanya itu, Hijau Daun juga berhasil memboyong empat penghargaan Indigo Awards 2009, salah satunya adalah Artist of The Year. Gelar Band Terbaik, Artis Pop Terbaik, dan Pendatang Baru Terbaik 2009 pun kini disandangnya.
Lewat penghasilan dari RBT dan penghargaan Indigo Awards –yang digelar salah satu operator seluler (PT Telekomunikasi Indonesia) untuk artis-artis yang karya musik digitalnya diapresiasi masyarakat ini— Hijau Daun kian terkenal. Band ini digawangi lima personil, Dide pada vokal, Array dan Arya pemetik gitar, Richan pada bass dan Deny sang penabuh drum.
Bertempat di restoran Lumbung Padi, Menteng, Jakarta beberapa waktu lalu, Hijau Daun menggelar syukuran bersama anak yatim. Dalam kesempatan itu, Hijau Daun lewat Dide sang vokalis, di depan para wartawan berbagi cerita tentang perjalanan karir musik mereka. Berikut ringkasan obrolannya :
VIEW: Apa komentar Anda dengan pencapaian prestasi yang luar biasa ini?
HIJAU DAUN: Ini merupakan mimpi yang luar biasa. Pada awalnya, target kita cuma pingin bikin orang tahu band yang namanya Hijau Daun. Ternyata dengan pencapaian ini, kami merasakan lebih banyak berkahnya.
VIEW: Bagaimana dengan pihak label, apa komentar mereka dengan prestasi kalian?
HIJAU DAUN: Tentunya yang pertama kali mengetahui hal ini adalah pihak label. Dan untungnya pihak label transparan juga, jadi kami serahkan ke label. Kami puas dengan semua berkah yang dikasih.
VIEW: Seberapa jauh, perjalanan karir dari kalian sebagai band sebelum akhirnya hijrah ke ibukota?
HIJAU DAUN: Memang, awalnya kami sepakat bersama-sama melawan arus musik di Lampung, karena sering bawain lagu sendiri. Ini karena di kota kami belum ada band indie.
VIEW: Alasan yang mendasar kalian hijrah ke ibukota?
HIJAU DAUN: Tentunya karena kami ingin berkarir secara professional, dan hal itu datang ketika kami diberi kesempatan untuk bernaung di bawah bendera Sony Music Indonesia pada bulan April 2008 lalu dengan merilis album Ikuti Cahaya.
VIEW: Lantas apa makna dari album perdana itu bagi Hijau Daun?
HIJAU DAUN: Bagi kami, album pertama itu jati diri dan album berikutnya menjadi pembuktian bahwa kita masih ada di panggung musik.
VIEW: Lantas ada apa dengan nama Hijau Daun?
HIJAU DAUN: Nama Hijau Daun sendiri diambil dari filosofi klorofil yang memberikan oksigen bagi kehidupan. Dan kami berharap dapat memberikan oksigen baru dalam kehidupan musik Indonesia.
VIEW: Bagaimana kalian menjaga kekompakan tim?
HIJAU DAUN: Hehehe… biasanya kita mandi bareng, hahaha. Terus biasanya kalau sehabis manggung, kita sering makan bareng di satu meja sambil ngobrol asyik. Pokonya seru deh. [view]
Artikel ini ditulis dan dimuat untuk VIEW edisi Desember 2009
Posted by: izoruhai on: January 14, 2010
Tak terasa tahun 2009 segera berakhir. Biasanya, akhir tahun identik dengan liburan. Berlibur ke sejumlah tempat wisata setelah berkutat dengan rutinitas sepanjang tahun, menjadi pilihan menarik. Dua hari, lima hari atau sepekan, bisa jadi menjadi liburan yang sangat berarti jika dapat menikmati akhir tahun yang berkesan.
Kini, banyak biro perjalanan yang menawarkan paket tur liburan akhir tahun. Panorama Tours, sejak Oktober hingga pertengahan Desember ini, gencar menawarkan liburan akhir tahun baik mancanegara maupun domestik dengan potongan harga mencapai 1.000 dollar. Tentunya ini pilihan bagi mereka yang tak mau repot-repot mengatur segala urusan dalam berlibur, mulai dari transportasi, akomodasi hingga tujuan destinasi yang dituju. Tapi bagi yang sudah menguasai seluk beluk daerah wisata yang akan dituju, tinggal merencanakannya sendiri tanpa ikut tur.
Lalu, kemana rencana liburan akhir tahun kali ini? Destinasi yang akan dituju, mancanegara atau domestik? Semua itu, tentunya harus disesuaikan dengan rencana dan anggaran yang tersedia. Namun paling tidak di bawah ini ada beberapa daerah tujuan wisata domestik –yang memiliki daya tarik tersendiri— layak dikunjungi. Paling tidak, tak sekadar berlibur, tapi sekaligus lebih mengenal kekayaan alam negeri sendiri yang terbentang dari Sabang hingga Merauke. Dimana selama ini begitu dikagumi oleh para wisatawan dari mancanegara karena keindahan dan kearifan lokalnya.
Bagi pecinta wisata diving tak ada salahnya mengunjungi pulau Wakatobi, destinasi yang sangat fantastis sebagai wisata selam dan wisata laut dengan keajaiban laut bawah dan terumbu karang terbaik di dunia, berlokasi di Laut Banda Sulawesi Tenggara. Wakatobi merupakan akronim dari gugusan Kepulauan Tukang Besi yang terdiri dari empat pulau besar yakni Wangi-wangi, Kaledupa, Tomia dan Binongko.
Wakatobil dikenal juga sebagai Kepulauan Tukang Besi. Kepulauan yang hingga kini terkenal dengan pembuatan keris tradisional yang indah. Gugusan kepulauan ini memiliki alam yang masih asli, tenang dengan air laut jernih, gua-gua bawah laut yang saling berdekatan satu sama lain. Bisa jadi, wilayah ini merupakan kawasan wisata taman laut pertama di Indonesia.
Untuk bisa menikmati keindahan Wakatobi, terlebih di bulan Desember –yang menjadi bulan baik untuk kegiatan penyelaman— dibutuhkan waktu perjalanan 5-6 jam dengan kapal cepat dari Kendari atau transit di Bau-Bau. Namun kini, di pulau Tomia pun sudah tersedia jalur penerbangan dari Denpasar Bali. Tentunya ini akan membuat perjalanan ke Wakatobi semakin mudah dan nyaman. Tak heran bila banyak kalangan dunia pariwisata memprediksikan Wakatobi sebagai destinasi favorit di tahun 2010 mendatang.
Pilihan alternatif untuk mengisi liburan akhir tahun adalah menjelajahi wisata budaya di kawasan timur Indonesia. Ya, tentunya image Tanah Toraja masih begitu melekat sebagai kekayaan budaya, meski pamornya beberapa tahun terakhir ini sedikit meredup. Kawasan yang terletak sekira 350 KM sebelah utara kota Makassar ini terkenal dengan bentuk bangunan rumah adat Tongkonan serta upacara adat rambu solo (pemakaman) yang begitu kesohor. Untuk menuju Tanah Toraja yang mengagumkan ini bisa menggunakan jalur darat dari Makassar, memang cukup melelahkan karena harus ditempuh selama tujuh jam. Namun terdapat pula jalur penerbangan domestik memakai pesawat kecil dari Bandara Hasanudin Makassar dengan waktu tempuh hanya 45 menit saja.
Bagi yang tak memiliki waktu liburan panjang, kawasan ujung barat pulau Jawa bisa menjadi pilihan alternatif. Dan memang ternyata, kawasan ini menyimpan wisata alam yang tak kalah menariknya untuk dijelajahi di saat liburan nanti. Salah satunya adalah Taman Nasional Ujung Kulon –yang dideklarasikan oleh UNESCO sebagai Natural World Heritage Site. Selain Taman Nasional Ujung Kulon, kawasan yang sebagian besar masuk Kabupaten Pandeglang ini diberkahi sebaran pantainya yang eksotik, mulai dari Carita, Ciputih, Tanjung Lesung hingga Pulau Umang. Lantas jika bergeser ke selatan memasuki kabupaten Sukabumi terdapat ada kawasan Ujung Genteng, hingga Cisolok dan Sawarna, terhampar pantai pasir putih yang menghadap ke Samudera Hindia.
Mungkin hingga saat ini, destinasi Bali tetap menjadi impian sebagian kalangan untuk dijelajahi. Tak heran memang, pulau dewata yang kini ditetapkan sebagai Asia’s Best Resort Destination 2009 oleh CEI Asia, mengalahkan Thailand yang menempati peringkat kedua dan Gold Coast, Australia, di posisi ketiga. Memang, pamor Bali sebagai destinasi yang menjanjikan bagi para pelancong dibuktikan dengan pemandangan alam yang indah, pantai yang asri, hingga tempat wisata yang atraktif. Kafe, restoran, dan toko-toko seni yang berderet di sepanjang jalan juga menjadi daya tarik bagi wisatawan. Tak hanya itu, tradisi keagamaan yang dipegang teguh masyarakat Bali justru menjadi magnit yang kuat bagi wisatawan.
“Tak dipungkiri, Bali menjadi tempat tujuan paket tur wisata paling favorit wisatawan domestik yang akan menghabiskan waktu paket travel liburannya di akhir tahun, baik yang berangkat sendiri maupun melalui biro tur travel,” ungkap Ibu Fenny Maria, Vice President Retail Business Development Panorama Tours. [view]
Artikel ini ditulis dan dimuat untuk VIEW Edisi Desember 2009
Posted by: izoruhai on: December 22, 2009
Bicara soal jodoh, bukan suatu yang tabu lagi bagi banyak wanita. Jaman modern kini jauh berbeda dengan dulu kala. Terlebih di era komunikasi yang kini kian canggih. Tak heran, jika tak sedikit kaum wanita menjadi lebih agresif dalam memulai suatu hubungan. Dan telepon seluler (ponsel), diyakini ikut berperan dalam perubahan ini.
Lantas, apa hubungannya ponsel dengan perubahan pola pikir wanita dalam hal mencari pasangan?. Memang, jika jaman dulu para orangtua berperan besar dalam menentukan pasangan hidup putra-putrinya. Kini, seiring berkembangnya zaman serta pemahaman gender, membuat cara pandang dan berfikir masyarakat mulai bergeser. Ditambah lagi dengan begitu cepatnya beragam inovasi teknologi alat komunikasi bernama ponsel. Dimana pada akhirnya menjadi ’perangkat’ yang wajib dimiliki dan hadir dalam setiap aktivitas sehari-hari. Tak sekadar sebagai aksesoris pemanis tampilan atau komunikasi, tapi juga sebagai alat penunjuk gengsi.
Dan, baru-baru ini muncul tren baru bernama NUMBERTIS. Sebuah tren yang menunjukkan kecendrungan para wanita untuk memberi nomor telepon kepada lawan jenis yang mereka sukai. Seperti tayangan sebuah iklan komersial dari produk pewangi badan yang menggambarkan perilaku wanita ketika naksir seorang pria. Betapa agresifnya wanita itu, dengan berani menuliskan nomor telepon pribadinya.
Berdasarkan penelitian Axe Research Lab, yang dilakukan terhadap 342 wanita di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek) dengan rentang usia 16-29 tahun pada Agustus 2009 lalu, terkuak beberapa perilaku wanita masa kini dalam memandang tahap awal hubungan asmara mereka. Sebanyak 89 persen, menganggap ponsel sangat penting dalam memulai suatu hubungan dengan pria. Ponsel dianggap sebagai medium sangat privat, sehingga dengan alat ini wanita menjadi lebih bebas memancarkan sinyal ketertarikan kepada sang pujaan yang diincarnya.
Biasanya, hubungan dimulai dengan saling berkirim pesan pendek (SMS), yang isinya dari sekadar basa-basi hingga berakhir pada rayuan. Faktanya, sebanyak 67 persen dari responden mengatakan, sebuah hubungan dengan pria bisa berawal dari komunikasi lewat SMS sebelum ke tahap selanjutnya. Bahkan 64 persen responden merasa bahwa mengirimkan sinyal yang menggoda kepada pria incarannya kian menambah seru.
Tahap selanjutnya, adalah ngobrol lewat ponsel. Dan ternyata 56 persen dari responden meyakini bahwa jika pria sudah masuk ’perangkap’ ke dalam tahap ngobrol berarti pertanda telah dimulainya sebuah hubungan. Bahkan fakta lain menunjukkan sebanyak 68 persen mengakui sangat menikmati untuk bisa menggoda pujaan hatinya lewat obrolan melalui ponsel. Lebih dari itu, sebanyak 79 persen, mengaku lebih merasa puas dan leluasa flirting (saling menggoda) lewat ponsel daripada internet.
Jadi, berdasarkan riset tersebut, tampaknya bukan sesuatu yang aneh bila kaum wanita kini lebih berani memainkan peran awal dimulainya suatu hubungan. Terlebih di wilayah urban seperti Jabodetabek dengan segala fasilitas pendukungnya, seperti mal-mal atau tempat hiburan termasuk operator penyedia layanan komunikasi yang terus menjamur.
Dan memang, menjadi wajar, karena lewat ponsel yang sifatnya pribadi, wanita tak lagi malu dalam mengungkapkan perasaannya seperti bila bertatap muka dengan pria yang menjadi incarannya. Dimana wanita bisa mengetahui apakah seorang pria menyukainya hanya dari cara lawan jenisnya ketika berbicara di telepon. Hal ini diperkuat dari 81 persen, responden mengakui bisa dengan mudah mengetahui apakah pria yang meneleponnya itu menyukai atau tidak.
Hingga pada akhirnya, jika sudah kerap berkomunikasi lewat ponsel, sebanyak 61 persen responden, tak keberatan untuk mulai berkencan dengan si pria pujaannya. Namun begitu, sebanyak 90 persen, dari responden baru akan mengiyakan ajakan kencan si pria, jika sang pria pujaanya itu tak memiliki masalah dengan bau badan. [view]
Tulisan ini ditulis dan dimuat untuk majalah VIEW Edisi Nopember 2009
Posted by: izoruhai on: December 22, 2009
Siapa tak kenal dengan pria yang satu ini. Sosoknya yang energik, ramah dan rendah hati, membuat kehadirannya selalu dinanti para penggemarnya. Kini, namanya pun kian melambung di panggung hiburan. Ia disebut-sebut sebagai presenter yang multitalenta.
Dialah, Binsar Choky Victory Sitohang (27), yang lebih dikenal dengan Choky Sitohang. Pria ganteng ini, saban hari membawakan acara di program musik yang tengah digandrungi pemirsa TV. Salah satunya adalah Happy Song yang tayang live setiap hari di Indosiar. Tak hanya itu, penampilannya yang apik di salah satu program ‘biro jodoh’ Take Me Out dan Take Him Out, yang tayang di stasiun televisi yang sama, juga sangat diminati. Tak heran, bila kesibukan pria kelahiran Bandung, 10 Juli 1982 ini sangatlah padat.
Namun, meski sibuk sebagai model, presenter dan pengajar di salah satu lembaga pendidikan bahasa Inggris ternama, Choky tetap tampil energik. Julukan sebagai sosok pekerja keras dan pantang menyerah pun tak lepas dari Choky. Walau namanya kini masuk dalam jajaran presenter papan atas, ia tak ingin berpuas diri. Maklum, sebelumnya ia pernah menjajal profesi sebagai penyiar radio, reporter teve dan presenter.
Dan dalam perjalanan karirnya, ia juga mengalami ‘jatuh bangun’. Ia mengaku pernah ditolak dan tak diberi kesempatan dalam pekerjaan yang kini digelutinya. “ Selama merintis karier ini, banyak suka duka yang saya alami. Pengalaman pahit dari tingkat senioritas pun tak jarang saya alami,” kenangnya. Namun, beragam masalah yang dihadapinya selalu dijadikan pembelajaran diri agar menjadi seorang yang kuat. “Semua masalah, pasti ada solusinya,” ujar pria yang gemar bermain basket ini.
Diakui Choky, bahwa hal yang membuatnya bertahan hingga saat ini adalah integritas dan kerendahan hati. Kedua hal tersebut, menurutnya harus dimiliki setiap orang yang ingin meraih sukses, termasuk dirinya. Disamping itu, kesuksesan yang diraihnya tak terlepas dari adanya penyertaan Tuhan. Betapa tidak, untuk bisa tampil seperti saat ini, ia harus menunggu selama delapan tahun dengan terus bekerja keras. Dengan kesuksesan yang kini di genggamnya, ia tengah berencana mewujudkan impiannya untuk mengembangkan sebuah kantor manajemen di dunia entertainment.
Selain itu, ia juga bermimpi membangun sekolah broadcasting untuk menghadirkan presenter-presenter muda yang berbakat. Kini, Choky tengah merancang sebuah program acara televisi berupa talkshow yang mengangkat realita kehidupan seseorang. Dan tentunya, ia pun tetap ingin mewujudkan cita-cita kecilnya menjadi seorang penyanyi. Katanya, sejak remaja, putra sulung dari pasangan Poltak Sitohang dan Diana Napitupulu ini bermimpi bisa menjadi penyanyi setenar Bob Tutupoli atau Koes Hendratmo.
Lalu, apa saja kesenangan pribadi yang bisa dilakukannya disela-sela kesibukannya? “Saya tetap rajin berolahraga. Karena rutin dijalani, tubuh saya jadi seperti ini. Saya pun lebih lincah, sehat dan selalu berfikir positif. Dan yang pasti, saya makin rajin bercermin,” ucapnya terbahak, memamerkan giginya yang putih bersih. [view]
Tulisan ini ditulis dan dimuat untuk majalah VIEW Edisi Nopember 2009
Komentar